Hilang
May 3rd, 2007 by hracleAku…melayang…
Menjelma…
Jadi cahaya…
Ilalang…tersenyum…
Angin…Melambai…
Aku…menghilang…
Aku…melayang…
Menjelma…
Jadi cahaya…
Ilalang…tersenyum…
Angin…Melambai…
Aku…menghilang…
Langit tak bertepi menepikan anganku
Malam tak berbintang mengelamkan asaku
Angin yang membeku membatukan hatiku
Sedangkan aku mulai meleleh dalam tiadaku
Lenyap
menjadi abu
Ada yang tersembunyi dari mata mu
yang secara tidak sengaja, kau teriakkan melalui degub jantungmu
Mengundang sejuta selidik di tiap nafasku
Bahkan ketika kulempar senyuman sebagai penawar
Kau tak pula sibakkan tirai dari sudut gelapmu
Dawai yang terpetikpun tak sanggup getarkan
Hanya mampu lelapkan
Haruskah ku menjelma sirna agar kau dapat tawarkan galaumu disela tiadaku ???
Ada laut dalam rongga kepalaku
Dimana kita biasa berenang dalam mesra
Bermain-main dan bercanda dengan cinta
Sungguh percik airnya begitu menyejukkan
Sementara kerling keemasan anggun menyapa
Sangat terasa ketika anginnya mendekap tubuh
Menyalakan kembali sejenak rasa rinduku
Ingin kulukiskan kembali diudara
Dengan desau aroma rindu yang kau hela
Agar dapat indah terbaca manusia
Bahkan mentari pun begitu tersipu
Sehingga langit menyapa hangat dengan jingga
Apalagi cinta yang kau bawa
Menebar indah dalam nuansa merah jingga
Sejenak kembali pula rasa lapar didalam mata
Mengingat semerbak yang paling jauh
Disaat cintamu mengecup lembut dinding hatiku
Bersama senja di cakrawala lautan cinta
Kala malam dingin menyapa dalam gelapnya
Menghembus angin di tengkuk rinduku
Hanya gelitik manjamu saat itu
Dan aku, terbalut dalam telaga cintamu
Kala galau hangat mendera dalam kecupnya
Memeluk sukma di dinding kalbu
Hanya sutra pada getar suaramu
Dan aku, terjebak dalam hasrat cintaku
Kau datang dengan segenap misteri
Di dimensi rindu tanpa muara
Membalut asa dalam sederhana cintamu
Menjerat sukma dalam alunan rindumu
Kau adalah muara dari segenap aliran cintaku
Menghalau batas pada setiap imajiku
Kau adalah getar suara pada melodi cintaku
Menggubah warna pada dinding
khayalku
Matahari dibukit itu kini tersenyum
Melihat sang bunga berseri dan semerbak
Anginpun menggoyang rumput
Getarkan jiwa pengelana
Seketika terujar,
Tetaplah indah wahai bunga
Agar dapat kulihat bahagia di wajah mentari
Kubenamkan wajahku di altar suci Tuhan
Selayaknya aku mengecup wajah sungai dan tenggelam
Bersama harap kugetarkan jiwa ini dengan do’a
yang mengalir dalam derai air mata
Luka yang tertoreh,
‘kan kujadikan persembahan
Lalu cinta yang tergenggam dan mulai mengakar
Niscaya akan tumbuh indah dan selimuti malam
Bersama perih yang indah
dalam altar Tuhanku
Namaku adalah sunyi
Ada tuk menjadi tiada
Benamkan diri bersama senyap
Namun tiada lenyap
Telah kutemukan lagi sayapku yang dulu
Meski telah tercabik sebagian
Namun akan tetap ku kepakkan
Perih memang,
namun aku harus terbang
Biarkan saja serpihan nya terserak
Agar kau dapat menyimpannya dan tersenyum
Hiraukan luka yang tertoreh
di bentang sayapku
Aku tetap harus terbang untuk jatuh
Bersama cintamu yang kugenggam
dari senyapmu
26 musim telah kita lewati bersama
Dengan senyummu di kelopak mataku
dan cahayamu di batinku
Seperti tertiup angin semilir
Hatiku bergoyang mengikuti nada
yang kau mainkan dari dawai cintamu
Hingga waktu tak terasa saja
Ku terlalu terhanyut terbawa waktu
Namun tak surut jua cintaku
Melawan waktu
26 musim tidaklah lama
Pun jiwaku telah berlabuh ke kota lain
Namun tidak cintaku
Semoga
Letihku saat ini, tak seperti lelahnya jiwaku mengembara
HIraukan pula tulang yang terlepas dari sendi jua
Darah yang terseret menimbulkan jejak merah
Namun seakan ototku ini tak ingin berhenti
Penantianku akan pertarungan terakhir jiwaku
Seakan berfatamorgana menjadi horizon tipis tanpa batas
Jiwaku terus berlari pun aku merayap-rayap
Sementara pahit memar ini masih berasa
Jeritanku tak lagi bergema kini
Hanya desahan asa yang terhela dari degub jantungku
Memandang jauh masa lampau
Tersenyum lirih ketika bayangnya mulai menari
Letihku kini mulai berasa
Ketika tetes nuansa beningku mengalir membasahi mata
Mereka-reka batas penghabisanku
Yang sedang tertawa lepas memandangku
Tirai hujan membelai lembut sanubari dengan nafas angin
Menggelitik-gelitik segar, sambil berbisik
"Izinkan aku mendekapmu dengan mesra"
Sejenak kupejamkan mata, hayati kecupan yang ia lontarkan
Dalam dekap hujan yang menjelma menjadi bayangmu
Sekilas kutemukan sejuk membungkus dada
Dalam hembus nafas angin dan canda hujan
Kutemukan segaris senyum dari masa lalu
Sejenak, dalam rinduku yang diteriakkan angin
Kutemukan pula, bayangmu menjelma menjadi tirai hujan
Yang kini mendekapku